Just another WordPress.com site

. I.   PENDAHULUAN

Kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan luar ne­geri sebagai bagian dari keseluruhan kebijaksanaan pembangun­an selama Repelita IV tetap berlandaskan pada Trilogi Pemba­ngunan sebagaimana diamanatkan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara. Dalam rangka peningkatan ketahanan dan pemantapan ke­stabilan di bidang ekonomi, kebijaksanaan neraca pembayaran dan perdagangan luar negeri diarahkan untuk menunjang proses perubahan struktur ekonomi melalui alokasi dan penggunaan da­na dan daya produksi yang lebih efisien dan peningkatan pro­duktivitas. Kebijaksanaan tersebut ditujukan pada peningkatan dan diversifikasi produksi dan perdagangan luar negeri, pe­nyediaan barang-barang kebutuhan pokok bagi konsumsi dan pro­duksi dengan harga yang mantap dan terjangkau, pengelolaan hutang dan pinjaman luar negeri secara cermat, peningkatan penanaman modal luar negeri, terpeliharanya kurs valuta asing yang mantap dan realistis serta pemeliharaan tingkat cadangan devisa yang memadai dan sepadan dengan perkembangan neraca pembayaran.

Selama dua tahun pertama Repelita IV perekonomian dunia masih terus ditandai oleh kerapuhan pasaran minyak bumi internasional, fluktuasi dalam harga komoditi primer lain­nya, ketidakpastian dalam perkembangan nilai paritas antara valuta utama, menguatnya tindakan proteksionistis terhadap

barang-barang ekspor negara-negara berkembang oleh negara-ne­gara industri serta masalah hutang-hutang negara berkembang yang belum terselesaikan secara tuntas.

Resesi ekonomi dunia yang berlangsung antara tahun 1979 dan 1982 secara bertahap dapat teratasi dengan tercapainya laju pertumbuhan produksi dunia sebesar rata-rata 3,7% dalam masa 1984-1988. Dalam tahun 1988 laju pertumbuhan produksi dunia bahkan mencapai 4,1%. Produksi rill negara-negara in­dustri, negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak bumi dan negara-negara pengekspor minyak bumi masing-masing me­ningkat dengan 4,1%, 5,2% dan 2,2%, yang merupakan laju per­tumbuhan yang paling tinggi sejak tahun 1980 bagi masing-ma­sing kelompok negara tersebut. Khususnya negara-negara ber­kembang di Asia dalam tahun 1988 telah berhasil mencapai laju pertumbuhan sebesar 9,0% sebagai akibat tingginya pertumbuhan di Singapura, Korea Selatan, Thailand dan India.

Volume perdagangan dunia dalam masa 1984-1988 berkembang dengan cukup menggembirakan, yaitu sebesar rata-rata 6,3% dan bahkan 9,3% dalam tahun 1988. Dalam periode yang sama volume ekspor negara-negara industri, negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak bumi dan negara-negara pengekspor minyak bumi masing-masing menunjukkan peningkatan sebesar rata-rata 6,2%, 9,7% dan 4,1%. Dalam tahun 1988 laju pertumbuhan volume ekspor mencapai 8,7%, 10,8% dan 11,7% bagi masing-masing kelompok negara tersebut di atas. Volume impor negara-negara industri dan negara-negara berkembang bukan pengekspor minyak bumi dalam periode 1984 – 1988 masing-masing meningkat dengan rata-rata 8,3% dan 6,8% dan dalam tahun 1988 dengan 9,5% dan 12,3%. Negara-negara pengekspor minyak bumi dalam masa yang sama mengalami penurunan dalam volume impor sebesar rata-rata 9,8%, sedangkan untuk tahun 1988 volume impor naik sedikit sebesar 0,8%.

Sementara itu nilai tukar perdagangan negara-negara ber­kembang menunjukkan perkembangan yang kurang menguntungkan meskipun harga beberapa komoditi ekspor, seperti hasil-hasil pertambangan, menunjukkan perbaikan beberapa waktu terakhir ini. Selama masa 1984 – 1988 nilai tukar tersebut merosot de­ngan rata-rata 0,2% setiap tahunnya untuk negara-negara bukan pengekspor minyak bumi dan dengan 15,1% untuk negara-negara pengekspor minyak bumi. Sebaliknya nilai tukar perdagangan untuk negara-negara industri menunjukkan kenaikan sebesar ra­ta-rata 2,2%. Hal ini disebabkan oleh di satu pihak besarnya tingkat kemerosotan harga komoditi primer di luar minyak bumi

selama periode 1985 – 1986 dan kemerosotan harga minyak bumi dengan rata-rata 13,9% selama masa 1984 – 1988 dan di lain pihak meningkatnya harga barang-barang industri dengan rata-rata 6,4% dalam periode 1984 – 1988.

Transaksi berjalan pada neraca pembayaran negara-negara industri dalam tahun 1988 mengalami defisit yang lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu sebesar US$ 21,0 milyar. Defisit transaksi berjalan negara-negara berkembang juga membesar dari US$ 14,6 milyar dalam tahun 1987 menjadi US$ 36,3 milyar dalam tahun 1988. Perkembangan terakhir ini terjadi karena kemerosotan dalam nilai tukar perdagangan dan karena pembayaran bunga atas pinjaman luar negeri terus me­ningkat.

Kerja sama ekonomi internasional dalam masa 1984 – 1988 terutama ditujukan untuk menunjang baik pertumbuhan negara-negara industri maupun pembangunan negara-negara berkembang, meningkatkan koordinasi kebijaksanaan makro antara negara-ne­gara industri, termasuk kestabilan pasar modal dan valuta asing, mengurangi tindakan proteksionistis dan memperluas per­dagangan internasional serta penyelesaian masalah hutang ne­gara-negara berkembang yang mengalami kesulitan dalam pelunas­an pokok dan pembayaran bunga.

Di bidang moneter, Dana Moneter Internasional (IMF) te­rus menjalankan upaya untuk menciptakan suatu suasana moneter internasional yang dapat menunjang perdagangan dan pertumbuh­an dunia melalui peningkatan dana dan fasilitas pinjaman. Khusus untuk negara-negara berkembang berpenghasilan rendah dalam bulan Maret 1986 telah dibentuk Fasilitas Penyesuaian Struktural (Structural Adjustment Facility) yang memberikan bantuan bersyarat lunak untuk menghadapi masalah neraca pem­bayaran yang berat. Pada tahap awal telah disediakan dana sebesar SDR 2,7 milyar yang dapat digunakan oleh negara-negara anggota dengan batas maksimum 63,5% dari kuota masing-masing. Dalam rangka pengalihan dana-dana pembangunan ke ne­gara-negara berkembang pada bulan Agustus 1984 Bank Dunia te­lah meningkatkan dananya sebesar US$ 7,0 milyar. Selanjut­nya pada tahun 1987 International Development Association (IDA) telah menaikkan dana ke-8 sebesar US$ 12,4 milyar yang direncanakan untuk membantu negara-negara berkembang terutama di kawasan Afrika SubSahara sampai dengan tahun 1990. Di sam­ping itu, untuk mendorong arus investasi dari negara-negara industri ke negara-negara berkembang, pada bulan Agustus 1985 Bank Dunia telah membentuk Multilateral Investment Guarantee

II. ISI

Selama Repelita IV, secara keseluruhan situasi neraca pembayaran tetap terkendalikan dengan baik walaupun terdapat tekanan-tekanan yang cukup berat khususnya selama tiga tahun pertama. Faktor utama yang berdampak negatif adalah kemerosot­an harga ekspor minyak bumi. Pada tahun 1986/87 harga komodi­ti ini adalah 57,1% lebih rendah dibandingkan dengan harganya pada tahun 1983/84. Sebagai akibatnya nilai ekspor minyak dan gas bumi dalam periode yang sama merosot dengan 51,8%. Peran­an ekspor minyak dan gas bumi dalam ekspor keseluruhan menu-run. Nilai ekspor minyak dan gas bumi yang pada tahun 1983/84 masih merupakan 72,9% dari seluruh nilai ekspor, menurun men­jadi 50,9% pada tahun 1986/87. Dalam tahun 1987/88 dan 1988/89 laju kenaikan dalam nilai ekspor di luar minyak dan gas bumi merupakan faktor pendorong pokok ke arah perbaikan neraca pembayaran (lihat Tabel V-1).

Dalam periode 1984/85 – 1988/89 nilai ekspor keseluruhan hampir tidak mengalami perubahan. Hal itu disebabkan oleh me­nurunnya nilai ekspor minyak bumi rata-rata sebesar 16,1% per tahun, yang diimbangi oleh peningkatan nilai ekspor gas bumi dan ekspor di luar minyak dan gas bumi masing-masing dengan rata-rata 1,9% dan 17,8% setiap tahunnya. Dalam tahun 1988/89 realisasi nilai ekspor seluruhnya mencapai 63,7% dari sasaran Repelita IV karena nilai ekspor minyak dan gas bumi hanya men­capai 37,5% dari sasaran untuk komoditi tersebut. Sebaliknya nilai ekspor di luar minyak dan gas bumi dalam tahun 1988/89 melebihi sasaran Repelita IV. Laju pertumbuhan rata-rata eks­por di luar minyak dan gas bumi selama masa 1984/85 – 1988/89 adalah 17,8% per tahun dibandingkan dengan sasaran 15,8% yang diproyeksikan untuk Repelita IV (lihat Tabel V – 2). Ekspor di luar minyak dan gas bumi meningkat sangat pesat, yaitu se­besar rata-rata 34,5% per tahun, selama 2 tahun terakhir Re­pelita IV. Perkembangan tersebut merupakan dampak positif da­ri kebijaksanaan devaluasi tahun 1986 dan kebijaksanaan dere­gulasi dan debirokratisasi yang sejak tahun 1986

Penggunaan pinjaman (disbursement) Pemerintah menurun dari US$ 5.793 juta dalam tahun 1983/84 menjadi US$ 3.519 juta dalam tahun 1984/85 dan US$ 3.432 juta dalam tahun 1985/86. Perkembangan ini disebabkan karena pinjaman proyek bersyarat kurang lunak dan pinjaman komersial menurun dari US$ 4.070 juta dalam tahun 1983/84 menjadi berturut-turut US$ 1.996 juta dan US$ 2.015 juta dalam tahun 1984/85 dan 1985/86. Penurunan pinjaman yang tidak bersyarat lunak merupakan aki-bat dari kebijaksanaan Pemerintah untuk mengutamakan pinjaman bersyarat lunak dan membatasi penggunaan pinjaman bersyarat lebih berat dalam rangka pengendalian hutang-hutang luar negeri.

Dalam rangka memperkuat neraca pembayaran dan menjaga posisi cadangan, pada tahun 1986/87 dilakukan penarikan kredit komersial sebesar US$ 1.419 juta atau kenaikan sebesar 161,8% dibandingkan dengan US$ 542 juta tahun sebelumnya. Di samping itu, sejak tahun 1986/87 mulai dipergunakan bantuan khusus yang merupakan sumber dana luar negeri yang bersyarat lunak dan tidak mengikat dalam rangka mendukung pelaksanaan program dan proyek pembangunan. Untuk tahun 1986/87 bantuan khusus tersebut berjumlah US$ 503 juta. Peranan bantuan program ter­masuk bantuan khusus dan bantuan proyek bersyarat lunak dalam pinjaman Pemerintah semakin besar dalam tahun 1987/88 dan 1988/89. Apabila dalam tahun 1983/84 peranan bantuan bersya­rat lunak tersebut hanya sebesar 29,7%, maka dalam tahun 1987/88 peranannya mencapai 69,7% dari jumlah pinjaman Peme­rintah sebesar US$ 4.575 juta. Dalam tahun terakhir Repe­lita IV jumlah pinjaman Pemerintah adalah sebesar US$ 6.588 juta dengan peranan bantuan bersyarat lunak sebesar 69,8%. Perkembangan ini mencerminkan perbaikan struktur hutang Indo­nesia.

Pelunasan pokok pinjaman Pemerintah dalam masa Repe­lita IV meningkat dengan rata-rata 30,1% per tahun. Faktor utama yang menyebabkan kenaikan tersebut adalah meningkatnya nilai Yen Jepang dan sejumlah valuta asing lainnya terhadap Dollar Amerika Serikat terutama sejak tahun 1985.

Transaksi-transaksi yang berhubungan dengan pemasukan modal lain terdiri dari transaksi modal dalam rangka penanam­an modal luar negeri, transaksi modal yang dilakukan oleh badan usaha milik negara serta lalu lintas modallainnya.Penanaman

modal asing naik dari USS 449 juta dalam tahun 1983/84 menjadi US$ 878 juta dalam tahun 1988/89 atau naik sebesar rata-rata 14,4% per tahunnya. Kebijaksanaan deregulasi di bi­dang penanaman modal telah menyebabkan kenaikan dalam pena­naman modal asing sebesar 58,4% dalam tahun 1987/88. Pinjaman yang dilakukan oleh BUMN selama Repelita IV menunjukkan ke­naikan sebesar rata-rata 16,0%. Pemasukan modal yang negatif pada tahun 1988/89 berkaitan dengan pelunasan hutang sektor swasta yang setelah diperhitungkan dengan modal yang masuk berjumlah USS 1.033 juta.

Berdasarkan perkembangan transaksi berjalan dan dengan memperhitungkan pemasukan modal netto di sektor Pemerintah dan sektor di luar Pemerintah, cadangan devisa dalam dua tahun pertama Repelita bertambah dengan US$ 697 juta. Me­lonjaknya defisit transaksi berjalan pada tahun 1987/88 me­nyebabkan penurunan cadangan devisa dengan US$ 738 juta. Da-lam tahun 1986/87 cadangan devisa bertambah kembali sebesar US$ 1.585 juta dan kemudian menurun sebesar USS 677 juta pada tahun terakhir Repelita IV. Cadangan devisa resmi pada akhir tahun 1988/89 mencapai jumlah US$ 6.011 juta. Jumlah cadangan tersebut cukup untuk membiayai impor (c & f) di luar sektor minyak dan gas bumi untuk rata-rata 5,3 bulan. Dengan demi­kian, serangkaian langkah-langkah untuk menghadapi berbagai tantangan di bidang ekonomi selama masa Repelita IV telah juga berhasil mengembalikan kemantapan posisi neraca pemba­yaran, sekaligus memperkokoh landasan bagi pelaksanaan Repe­lita V.

      EKSPOR

Selama tiga tahun pertama Repelita IV nilai ekspor seca­ra keseluruhan rata-rata menurun sebesar 11,6% per tahun, dan kemudian meningkat dengan rata-rata 20,3% per tahun dalam periode 1987/88 – 1988/89. Nilai ekspor di luar minyak dan gas bumi selama tahun-tahun 1984/85 – 1986/87 naik dengan rata-rata 7,8% per tahun dan selama dua tahun terakhir Repe­lita IV mencapai laju pertumbuhan sebesar rata-rata 34,5% per tahun. Perkembangan ekspor di luar minyak dan gas bumi terse-but berkaitan erat d ngan kebijaksanaan devaluasi yang ditem­puh dalam bulan September 1986 dan kebijaksanaan deregulasi khususnya sejak tahun 1985. Di samping itu pasaran dunia untuk beberapa komoditi primer juga berkembang ke arah yang menguntungkan bagi negara-negara berkembang pengekspor komo­diti tersebut, setelah kemerosotan yang terjadi dalam periode 1984/85. Untuk komoditi seperti teh, kopi dan tembakau

terjadi fluktuasi yang tajam, yaitu penurunan harga sebesar 11,6% dalam tahun 1985, kenaikan sebesar 16,2% dalam tahun 1986, kemerosotan dengan 28,7% dalam tahun 1987 dan kenaikan sebesar 0,2% dalam tahun 1988. Untuk hasil pertanian lainnya seperti minyak sawit harga meningkat dengan 29,4% dalam tahun 1987 dan 8,2% dalam tahun 1988. Harga hasil-hasil tambang me­nunjukkan pelonjakan sebesar 17,2% dalam tahun 1987 dan 40,3% dalam tahun 1988. Perkembangan harga komoditi primer di pa-saran dunia mempunyai dampak yang cukup besar pada harga barang-barang ekspor dan nilai ekspor Indonesia (lihat Tabel V-7, V-8 serta Grafik V-3).

Selama Repelita IV, ekspor di luar minyak dan gas bumi masih terpusat pada kayu, tekstil, karat, kopi, minyak sawit, udang, kerajinan tangan dan beberapa hasil tambang. Sejak dua tahun terakhir Repelita IV barang-barang manufaktur menunjuk­kan perkembangan yang menggembirakan. Peranan ekspor di luar minyak dan gas bumi terus meningkat dan mencapai 61,5% dari nilai ekspor Indonesia dalam tahun 1988/89.

Ekspor di luar minyak dan gas bumi terutama masih ditu­jukan ke Jepang dan Amerika Serikat. Pangsa ekspor ke Jepang mengalami peningkatan dari 21,9% dalam tahun 1983/84 menjadi 24,0% dalam tahun 1988/89 yang berkaitan dengan meningkatnya nilai tukar Yen, sedangkan pangsa ekspor ke Amerika Serikat mengalami penurunan dari 19,4% menjadi 16,0%. Pangsa ekspor ke negara-negara ASEAN meningkat dari 14,9% menjadi 15,9%. Sebaliknya pangsa ekspor ke RRC mengalami penurunan dari 4,9% menjadi 3,5%. Dalam tahun 1988/89 juga dicatat adanya pening­katan pemasaran ke negara-negara Timur Tengah dan Asia lain­nya yaitu masing-masing sebesar 100,3% dan 39,3%.

Di dalam perkembangan ekspor di luar minyak dan gas bumi, ekspor kayu yang sebagian besar terdiri dari kayu lapis dan kayu gergajian masih menduduki peranan yang utama. Selama periode Repelita IV ekspor kayu menunjukkan kenaikan yang menggembirakan dengan nilai yang terus meningkat setiap tahunnya. Ekspor kayu lapis mengalami peningkatan setiap tahunnya baik nilai maupun volumenya. Sejalan dengan pesatnya perkembangan industri kayu lapis, maka selama empat tahun per­tama Repelita IV, nilai ekspor kayu lapis meningkat sebesar rata-rata 33,5% per tahun, atau naik dari US$ 579,3 juta dalam tahun 1983/84 menjadi US$ 1.839,1 juta pada tahun 1987/88. Volume ekspor kayu lapis juga mengalami peningkatan sebesar rata-rata 24,3% per tahun. Dalam tahun 1988/89 nilai dan volume masing-masing naik sebesar 12,5% dan 12,1% menjadi US$ 2.069,0 juta dan 4.290,0 ribu ton dan menduduki peringkat pertama dari seluruh ekspor di luar minyak dan gas bumi de­ngan pangsa sebesar 17,0%. Kenaikan ekspor kayu lapis terse-but dimungkinkan oleh tersedianya produksi kayu lapis Indone­sia dan meningkatnya permintaan dari Jepang sebagai hasil pembentukan trading house kayu lapis Indonesia di negara ter­sebut. Perlu ditambahkan bahwa ekspor kayu lapis jenis ter­tentu ke Amerika Serikat tidak lagi mendapat fasilitas Gene­ralized System of Preference (GSP), namun hal itu tidak mem­pengaruhi nilai ekspornya.

III. KESIMPULAN

Dalam pada itu, selama dua tahun pertama Repelita IV, nilai ekspor kayu bulat/gergajian dan olahan mengalami penu­runan karena volume ekspornya menurun. Penurunan tersebut adalah akibat pembatasan ekspor kayu bulat secara bertahap sejak tahun 1980 serta adanya pelarangan ekspor kayu bulat mulai tahun 1985. Namun, dalam tiga tahun terakhir Repeli­ta IV, nilai ekspor kayu gergajian dan olahan mengalami peningkatan kembali dengan semakin meningkatnya volume dan harganya. Dalam tahun 1988/89 nilai ekspor komoditi tersebut naik dengan 28,3% menjadi sebesar US 806,7 juta, dan volume­nya naik dengan 13,7% menjadi 3.301,0 ribu ton. Berdasarkan negara tujuan, Jepang dan Amerika Serikat tetap merupakan negara tujuan utama ekspor kayu dengan pangsa masing-masing sebesar 27,6% dan 11,3%. Pembeli kayu lainnya adalah RRC (8,8%), Singapura (8,1%), Hongkong (7,0%), dan Taiwan (6,3%).

Untuk impor barang modal, jenis komoditi yang dalam tahun terakhir Repelita IV meningkat agak tajam adalah impor pipa besi atau baja, yang meningkat dari US$ 31,0 juta dalam tahun 1987/88 menjadi US$ 59,3 juta dalam tahun 1988/89; impor me-sin untuk keperluan industri dan perdagangan, meningkat men­jadi US$ 372,2 juta dalam tahun 1988/89 dibandingkan dengan US$ 217,0 juta pada tahun 1987/88 serta impor aparat penerima

dan pemancar meningkat dari US$ 219,0 juta dalam tahun 1987/88 menjadi US$ 243,4 juta dalam tahun 1988/89.

Di antara barang-barang konsumsi yang menunjukkan pening­katan adalah impor bahan makanan lainnya (termasuk gandum) yaitu meningkat dari US$ 229,2 juta dalam tahun 1986/87 men­jadi US$ 317,1 juta dalam tahun 1988/89 dan gula pasir dari US$ 2,4 juta menjadi US$ 101,8 juta. Impor komoditi bukan pangan menurun dari US$ 1.091,5 juta dalam tahun 1986/87 men­jadi US$ 891,1 juta dalam tahun 1988/89 (lihat Tabel V-9).

Selama Repelita IV, pengeluaran jasa-jasa netto menurun rata-rata sebesar 0,8% yaitu dari US$ 7.663 juta pada tahun 1983/84 menjadi US$ 7.372 juta pada tahun terakhir Repe­lita IV. Hal ini terjadi karena adanya penurunan jasa-jasa sektor minyak dan gas bumi sebesar rata-rata 6,9% per tahun yaitu dari US$ 3.589 juta pada tahun 1983/84 menjadi US$ 2.508 juta pada tahun 1988/89, sedangkan pengeluaran jasa-jasa di luar sektor minyak dan gas bumi mengalami kenaikan sebesar rata-rata 3,6% per tahun yaitu dari US$ 4.074 juta pada tahun 1983/84 menjadi US$ 4.864 juta pada tahun 1988/89. Penurunan pengeluaran jasa-jasa sektor minyak dan gas bumi terutama disebabkan oleh menurunnya harga minyak, sedangkan peningkatan pengeluaran jasa-jasa di luar sektor minyak dan gas bumi terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran bunga atas hutang luar negeri.

Selama Repelita IV penerimaan dari pariwisata mengalami peningkatan yang cukup besar yaitu sebesar rata-rata 28,0% per tahun dari US$ 417 juta pada tahun 1983/84 menjadi US$ 1.431 juta pada tahun 1988/89. Sementara itu penerimaan dari jasa-jasa pengiriman tenaga kerja mengalami kenaikan rata-rata sebesar 17,5% per tahun yaitu dari US$ 46 juta pada tahun 1983/84 menjadi US$ 103 juta pada tahun 1988/89.

Dalam tahun terakhir Repelita IV, pengeluaran jasa netto mengalami peningkatan sebesar 3,9% menjadi US$ 7.372 juta. Peningkatan pengeluaran netto untuk jasa di luar sektor minyak dan gas bumi adalah sebesar 11,3% sedangkan jasa-jasa sektor minyak dan gas bumi mengalami penurunan sebesar 8,0%. Pening­katan pengeluaran untuk jasa-jasa di luar sektor minyak dan gas bumi terutama disebabkan oleh kenaikan biaya angkutan impor dan pembayaran jasa modal sehingga masing-masing menja­di US$ 1.347 juta dan US$ 2.851 juta. Pembayaran jasa modal yang masih meningkat tersebut erat kaitannya dengan kenaikan pembayaran bunga atas hutang Pemerintah sebesar 8,1% sehingga menjadi US$ 2.565 juta pada tahun 1988/89. Sementara itu, transaksi jasa perjalanan menunjukkan adanya peningkatan pe­nerimaan bersih yang cukup berarti, yaitu sebesar 69,0% se­hingga menjadi US* 806 juta. Peningkatan tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya penerimaan devise yang berasal dari wisatawan luar negeri.

Sebagaimana digariskan dalam GBHN pinjaman luar negeri merupakan sumber pelengkap untuk meningkatkan investasi dan membiayai impor yang diperlukan untuk meningkatkan pemba­ngunan.

Persetujuan pinjaman luar negeri (yang berbeda dengan pe­manfaatan atau disbursement pinjaman luar negeri seperti yang tercantum dalam neraca pembayaran pada Tabel V-11) selama Re­pelita IV meningkat dari US$ 4.528,6 juta pada tahun 1983/84 menjadi US$ 6.294,0 juta pada tahun 1988/89. Kenaikan ini terutama berasal dari kenaikan pinjaman lunak yang dalam periode yang sama, meningkat dari US$ 2.245,1 juta menjadi US$ 4.631,3 juta. Sedangkan persetujuan pinjaman setengah lunak dan komersial, dalam periode tersebut, hanya meningkat dari US$ 905 juta menjadi US$ 1.169,2 juta dan persetujuan pinjaman tunai menurun dari US$ 1.378,5 juta menjadi US$ 493,5 juta. Sementara itu Indonesia telah memperoleh bantuan khusus yang bersifat lunak dan mudah dicairkan untuk menun­jang neraca pembayaran dan anggaran pembangunan. Adanya ban­tuan khusus ini merupakan salah satu faktor meningkatnya jumlah bantuan yang bersifat lunak tersebut. Atas dasar ko­mitmen yang ada, pada tahun 1988/89, bantuan khusus ini (ter­masuk sejumlah kecil bantuan program yang secara teratur di­terima setiap tahun) mencapai US$ 2.299,1 juta.

Dengan adanya bantuan khusus tersebut maka bagian dari pinjaman Pemerintah yang berupa pinjaman lunak meningkat. Ini berarti bahwa komposisi pinjaman Indonesia makin membaik. Jumlah pinjaman kurang lunak, pinjaman komersial dan pinjaman tunai sebagai persentase dari seluruh komitmen pinjaman luar negeri Pemerintah untuk masing-masing tahun telah menurun dari 50,4% dalam tahun 1983/84 menjadi 26,4% dalam tahun 1988/89 (Tabel V-12).

Pelunasan pinjaman luar negeri Pemerintah yang meliputi pembayaran pokok dan bunga dalam tahun 1983/84 berjumlah US$ 2.188 juta, dan meningkat rata-rata sebesar 23,7% setiap tahunnya sehingga dalam tahun 1988/89 berjumlah US$ 6.328 juta. Peningkatan ini sangat dipengaruhi oleh adanya kenaikan kurs beberapa mata uang utama dunia terhadap dollar Amerika Serikat. Pembayaran angsuran pokok berjumlah US$ 1.010 juta dalam tahun 1983/84 dan mengalami kenaikan sebesar rata-rata 30,1% per tahun sehingga menjadi US* 3.763 juta dalam tahun 1988/89. Pembayaran bunga yang dalam tahun 1983/84 berjumlah US$ 1.178 juta meningkat dengan rata-rata 16,8% setiap tahun menjadi US$ 2.565 juta pada tahun 1988/89.

Ditinjau dari segi transaksi berjalan dan tingkat cadangan devisa perkembangan neraca pembayaran khususnya selama dua tahun terakhir Repelita IV menunjukkan kemantapan. Berkat serangkaian kebijaksanaan penyesuaian dan kebijaksanaan struktural, maka ekspor di luar minyak dan gas bumi, peng­hasilan devisa dari jasa-jasa dan penanaman modal luar negeri berkembang dengan baik.

Iklan

Comments on: "NERACA PEMBAYARAN DAN TINGKAT KETERGANTUNGAN PADA MODAL ASING" (2)

  1. kita seharusnya ga perlu ekspor minyak dan gas, sementara kebutuhan energi kita masih kurang.. heran sm kebijakan pemerintah..
    kunjungan balik yaw.. :))

    • trima kasih atas kunjungannya..
      🙂

      betullll, tapi apa mungkin pemerintah punya alasan lain makanya mengekspor minyak & gas??
      mungkin dengan begitu bisa menambah devisa negara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: