Just another WordPress.com site

Kunjungan Tempat Bersejarah

Monumen Nasional atau yang sering kita sebut monas adalah ikon dari ibukota Jakarta. monumen ini terletak di pusat kota Jakarta tepatnya di tengah Lapangan MedanMerdeka, Jakarta Pusat. Tugu monas menjulang tinggi mengalahkan bangunan – bangunan di sekelilingnya. Menurut sejarah, bangunan setinggi 128,70 meter ini didirikan pada era Presiden Soekarno tepatnya pada tahun 1959 dan diresmikan dua tahun kemuadian pada tahun 1961. Sebelumnya saya akan menjabarkan dahulu sejarah dari terbentuknya monas. Awalnya, sayembara digelar oleh Soekarno untuk mencari lambang yang paling bagus sebagai ikon ibukota Negara. Sang Presiden akhirnya jatuh hati pada konsep Obelisk yang dirancang oleh Friederich Silaban. Namun saat pembangunannya, Soekarno merasa kurang cocok dan menggantinya dengan arsiterk jawa bernama Raden Mas Soedarsono. Soekarno yang seorang insinyur mendiktekan gagasannya kepada Soedarsono hingga jadilah Tugu Nomas seperti yang kita ketahui saat ini. Rancangan Tugu Monas berdasarkan pada konsep pasangan universal yang abadi, yaitu Lingga dan Yoni. Tugu Obelisk yang menjulang tinggi adalah lingga yang melambangkan laki – laki, elemen maskulin yang bersifat aktif dan positif serta melambangkan siang hari. Sementara pelataran cawan landasan obelisk yoni yang melambangkan perempuan, elemen feminim yang pasif dan negative serta melambangkan malam hari. Lingga dan Yoni merupakan lambang kesuburan dan kesatuan harmonis yang saling melengkapi sedari masa prasejarah Indonesia. Pembangunan Tugu Monas bertujuan untuk mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi saat ini dan mendatang. Rancang bangunan monas penuh dimensi khas budaya bangsa Indonesia. Monumen terdiri atas 117,7 meter obelisk di atas landasan persegi setinggi 17 meter, pelataran cawan. Monument ini dilapisi dengan Marmer Italia.
Sebagai mahasiswa yang masih duduk di semester 5 universitas Gunadarma, saya ditugaskan oleh dosen softskill, ibu Andini Kurnia Fitriana untuk mendeskripsikan suatu tempat yang kita kunjungi seakan – akan si pembaca ingin mencoba ke tempat tersebut. Dan oleh karena itu saya membuat tulisan ini adalah untuk melengkapi tugas dari beliau. Awalnya saya bingung karena ketika saya di rumah saya enggan untuk keluar karena sudah disibukkan oleh kepadatan kuliah dan berbagai macam tugas. Walaupun ibu Andini tidak memberatkan mahasiswanya untuk melengkapi tugas, dalam artian beliau tidak mengharuskan kita ke suatu tempat yang ditentukan. Baik ke tempat wisata, pusat keramaian, tempat bersejarah ataupun tempat makan yang sering kita kunjungi. Beliau hanya meminta tulisan dari pendeskripsian tempat yang kita kunjungi. Akan tetapi saya ingin sesuatu yang berbeda, saya ingin mengunjungi tempat yang biasa namun tak terbiasa. Alhamdulillah setelah bercerita dengan teman special saya, dia menganjurkan agar saya pergi ke Monas. Dan saya sangat bersyukur karna dia juga mau menemani saya berkunjung kesana walaupun di tengah kepadatan pekerjaan dan kuliahnya. Dan pada hari minggu, 30 september 2012 kami langsung bergegas ke tempat tujuan.
Perjalanan monas dari rumah saya memakan waktu sekitar 25 menit karena rumah saya terletak di daerah pancoran, Jakarta Selatan. Namun Karena kemacetan Jakarta yang semakin menjadi – jadi, perjalanan mencapai 45 – 50 menit. Parkir kendaraan di monaspun sangat penuh dari biasanya dan ternyata terdapat aksi dari partai PKS yang memadati monas, selain itu terdapat acara festival jepang yang semakin memadatinya. Dan itu tidak mengalihkan saya untuk segera masuk dan naik ke puncak Tugu Monas. Walaupun saya sudah beberapa kali berkunjung ke monas tapi sejujurnya ini adalah kunjungan saya yang kedua kalinya ke dalam monumen. Dengan harga yang relative murah sesungguhnya saya malu sebagai warga Jakarta. karena saya mungkin salah satu warga yang tidak mengetahui sejarah dan tujuan dari pembangunan monas tersebut. Yang saya maksud tempat biasa namun tak terbiasa inilah yang saya piker monas itu tempat yang biasa dikunjungi dan yang pastinya semua penduduk Indonesia tahu namun tidak terbiasa atau bahkan belum pernah masuk ke museum monumen dan pencapai puncak Tugu Monas.
Berawal dari pintu masuk. Pintu masuk untuk memasuki monas tidak berada persis di depan gerbang dari pagar dan taman yang mengelilingi tugu monas. Tetapi berada di sebrang dan harus memasuki bawah lorong panjang hingga tempat antrian tiket masuk.
Setelah membeli karcis, kita akan menaiki beberapa anak tangga dan langsung disambut dengan pemeriksaan tiket. Dari tempat tersebut kita sudah memasuki kawasan monument nasional. Dan sayapun segera bergegas mencari loket yang berada di dalam agar saya dapat mencapai puncak Tugu Monas.

Sudah menemukannya, namun sayang karena loketnya sudah tutup. Dan saya gagal mencapai puncak untuk yang kedua kalinya. Dan akhirnya saya hanya mengelilingi museumnya saja. Di dalam museum ini terdapat seperti aquarium kaca yang didalamnya terdapat patung – patung penggambaran dari pendeskripsian masa perang ataupun kisah bersejarah lainnya. Namun patung – patung ini lebih sedikit dari pada patung – patung yang berada di museum lubang buaya. Mungkin ini hanya penggambaran besarnya saja dari kisah bersejarah Indonesia.
Setelah puas mengelilingi dan membaca sekilas sejarah Indonesia, saya pun beristirahat sejenak dan shalat di mushollah yang terdapat di dalam museum. Hari sudah hampir sore dan kamipun sudah lelah mengitarinya. Kamipun berniat untuk segera pulang. Namun ketika mendekati pintu keluar terdapat patung – patung yang saya kurang mengerti arti dari patung tersebut namun saya mengabadikan moment bersama patung – patung tersebut.

Puas berfoto – foto kamipun pulang denghan melewati lorong tempat masuk tadi dan kami harus menaiki beberapa anak tangga yang menguras tenaga dan membuat kami lelah. Semampainya di luar terdapat para pedangan yang menjual beraneka macam souvenir yang menggambarkan monas. Seperti kaos bergambar, gantungan kunci, ataupun hiasan rumah yang melambangkan dan berbentuk miniature monas. Dan di dekat para pedagang tersebut terdapat tempat tunggu dari pemberhentian kereta. Rute kereta ini adalah dari parkiran menuju museum monas dan sebaliknya. Kereta ini tidak dipungut biaya dan pastinya tidak berhenti di tengah perjalanannya menuju parkiran ataupun museum monas. Karena kereta ini disediakan bagi bara pengunjung yang hendak ke museum dan ke parkiran karena telah mengunjungi museum. Tak lama kereta berjalan saya baru tersadar bahwa ibu Andini meminta mahasiswanya untuk mewawancara salah satu pengunjung. Sayapun segera mewawancarai pengunjung yang duduk di sebelah. Zaenal namanya, dia adalah salah satu pengunjung dari kota tangerang, banten. Tujuan beliau kejakarta adalah mengajak anak dan istrinya untuk mengunjungi salah satu kerabat yang berada di Jakarta. Namun karena sudah terlanjur di Jakarta dan mereka belum pernah meliahat langsung Tugu Monas seperti apa, oleh katena itu mereka menyempatkan diri untuk berkunjung. Dan memperkenalkan sejarah bangsa Indonesia kepada anak – anak mereka yang masih duduk di bangku SD. Tidak terasa kereta sudah sampai pada parkiran utama. Dengan sampainya di tempat parkiran berakhir pula kunjungan saya ke museum Monument Nasional. Walaupun agak membosankan semoga pendeskripsian saya tentang perjalanan saya hari ini bermanfaat bagi orang banyak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: