Just another WordPress.com site

Sekolah Alam

Berlandaskan prinsip tauhid, Sekolah Alam ini menerapkan metode belajar-praktik untuk melatih siswanya memahami konsep hidup. Lebih mementingkan kualitas pendidikan dan pengajaran daripada banyaknya jumlah murid.  Terik matahari pagi sudah mulai membakar kulit, namun itu tak memengaruhi keasyikan Helmy (4) dan kawan-kawannya berkeliling mencari ranting kering. Di antara rerimbunan pohon yang tumbuh di areal sekolah seluas 600 m2, hari itu mereka memulai pelajaran memasak pisang keju cokelat. Berbeda dengan murid sekolah lain, Helmy dan kawan-kawan belajar di halaman terbuka sembari menikmati semilir angin. Di bawah bimbingan seorang guru, mereka memerhatikan cara membuat api menggunakan kayu bakar. Ranting dan kayu mereka tata di antara batu bata sebagai kompor alami. Usai api menyala, sebuah panci yang telah diisi air dan pisang diletakkan di atas kompor itu. Sesekali sang guru mengingatkan mereka untuk tidak terlalu dekat dengan sumber api. “Maaf sayang, jangan terlalu dekat,” katanya di antara celotehan murid kelas TK A tersebut. Tak jauh dari kesibukan anak TK A itu, murid kelas 5 dan 6 SD tampak bergabung mempelajari keterampilan tali-temali dan rafting. Meski sesekali mencuri pandang menikmati keindahan pepohonan rindang, mereka serius mengikuti pelajaran yang diberikan gurunya.  

 

Pemandangan inilah yang akan kita temui setiap pagi di Sekolah Alam Natur Islam Bekasi, Kota Bekasi. Siswa yang belajar di sana lebih banyak melakukan kegiatan belajar-praktik di luar kelas dibanding duduk manis menghafal pelajaran di dalam kelas. Selain membuat suasana belajar menjadi lebih asyik, penerapan praktik di alam melatih siswa untuk memahami konsep yang berlaku dalam kehidupan. Cara ini akan membuat mereka mampu mengambil keputusan secara cepat dan tepat dalam menghadapi masalah yang muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kepala Sekolah Alam Natur Islam Bekasi, A Ramdani (35 tahun) mengatakan, pola pendidikan tradisional biasanya memaksa anak untuk menerima berbagai informasi materi pelajaran tanpa memberi bimbingan cara memanfaatkannya. Akibatnya, ketika lulus banyak anak bingung menentukan arah hidupnya. Metode tradisional ini mulai ditinggalkan di Sekolah Alam Natur Islam. Menurut Ramdani, dengan landasan konsep tauhid, pendidikan di sekolahnya mengedepankan pendidikan karakter untuk pembinaan akhlak. Anak tak hanya dijejali dengan informasi, tapi juga dituntut mengaplikasikan informasi yang diterimanya itu langsung dalam kegiatan sehari-hari.  

 

Sebagai contoh, ketika belajar mengenai isu global warming, anak-anak Natur Islam tak hanya diajari mengenai pengertian dan akibatnya. Tetapi juga diajak berdiskusi apa yang bisa dilakukan untuk mencegah global warming, seperti menanam pohon, memisahkan sampah organik dan organik serta menghemat pemakaian kertas. Selanjutnya, hasil diskusi itu pun langsung dilaksanakan. Dalam praktiknya, anak-anak juga diajari untuk jeli memilih tindakan. Misalnya, kalau menanam pohon harus dipilih yang produktif, seperti yang menghasilkan buah atau sayur. Mereka lalu diajari cara mengolah buah atau sayur hasil pohon itu untuk dikonsumsi. Atau ketika memilah sampah, anak tidak sekadar belajar memisahkan bahan yang bisa didaur ulang dan yang tidak. Anak-anak Natur Islam juga diajari cara mendaur ulang bahan tersebut sehingga dapat dimanfaatkan lagi. Misalnya, membuat tas atau kerajinan tangan. Selain mengasah keterampilan kognitif, cara ini diyakini dapat menumbuhkan jiwa entrepreneurship anak.

 

Setiap pagi sebelum mulai belajar anak juga diajarkan untuk thoharoh dan shalat dengan benar. Selain itu juga dibiasakan untuk membaca dan menghafal Al-Qur’an, dan dibekali pelajaran bahasa Arab dan Inggris. Ramdani membatasi jumlah murid di setiap kelas maksimal 20 anak. Selain untuk menjaga kualitas pengajaran, tujuannya agar pembimbing dapat memantau perkembangan anak. Hal ini karena setiap anak memiliki karakter yang berbeda-beda sehingga memerlukan pendekatan yang tak sama. Maka, tak heran meski telah berdiri sejak tiga tahun yang lalu, jumlah seluruh murid sekolah ini—dari playgroup sampai kelas 6 SD—hanya 70 orang. Meski belajar di alam, materi pengajaran diambil dari kurikulum Depdiknas. Namun materi ini dibongkar dan dijabarkan kembali untuk disesuaikan dengan kapasitas otak anak. “Kita pilah lagi,” kata Ramdani. Karena itulah, anak-anak didik Natur Islam Bekasi tetap mengikuti ujian nasional secara formal dan dapat disetarakan dengan sekolah umum. Dalam menunjang kegiatannya, Sekolah Alam Natur Islam dilengkapi dengan fasilitas lapangan basket dan futsal, fasilitas outbond lengkap, green house, perpustakaan, jaringan internet dan juga ternak hidup seperti kuda dan kambing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: