Just another WordPress.com site

Mungkin yang terbaik

Tepat 2 hari yang lalu setelah kita bersama menonton sebuah konser di salah satu pusat perbelanjaan. Saya memutuskan untuk berbicara tentang apa yang dirasakan selama ini. Saya hanya menginginkan kita sama-sama berfikir dan intropeksi diri dimana letak kesalahan dalam hubungan kita. Karena saya rasa hubungan yang kita jalin sudah tidak sehat dan harus ada perbaikan.
Yaaa.. mungkin ini karna sifat saya yang terlalu kekanakan dan meminta perhatian lebih dari dia. Begitu ingin selalu di berikan kabar dan mendengar cerita tentangnya setiap hari. tapi apalah daya, sifat dia yang super cuek hingga saya merasa asing ketika tidak berada di dekatnya. Selalu menanti kabar darinya namun sangat jarang dia memberikan kabar jika saya tidak terlbeih dahulu memberi kabar. Saya yang selalu menanyakan dia sedang melakukan apa. Ketika pesan saya lama tidak ada jawaban sayapun yang menghubunginya lewat telepon.
Hmmmm.. mungkin dari beberapa orang yang melihat hubungan kita seperti saya yang lebih mendominasi untuk memberikan kabar. Hingga tak sedikit yang berkata bahwa saya terlalu sabar untuk menghadapi hubungan yang seperti ini. Awalnya saya befikir bahwa sebuah hubungan bukan hanya si pria saja yang harus lebih mendominasi. Karna saya yakin sebuah hubungan itu akan terjalin jika sama sama saling melengkapi dan mengerti akan kemauan satu sama lain.
Beberapa bulan menjalin hubungan dengannya sambal memadu kasih, begitu berjalan mulus hingga sudah dibawa dalam lingkungan teman dan keluarga. namun belakangan ini ada beberapa kejanggalan. Saya semakin tidak mengerti dan semakin tidak tahu seperti apa sosok dia sebenarnya. Terlalu misterius karna ketidak terbukaannya. Mungkin memang dia sudah memiliki sifat seperti itu sejak lama. Tetapi balik lagi ke diri saya, mungkin saya salah ,karna saya belum bisa menerima kekurangannya. Saya terlalu terbawa oleh emosi dan terpengaruh oleh omongan sekitar yang kontra dengan hubungan saya dengan dia.
Begitu terpengaruhnya hingga saya seringnya menangis sendiri menahan emosi. Sampai suatu saat ada beberapa pembicaraan yang sangat menggetarkan hati saya. Ada yang bilang jika perempuan pada dasarnya hanyalah menunggu dan sedikit berjuang. Lelakilah yang harusnya berjuang untuk mempertahankan hubungan. Jika memang sang lelaki sangat mencintai wanitanya dia akan terus bertahan dan berjuang untuk mendapatkan hati si waninya kembali. Dan jika saya terus bersikap seperti ini selamanya akan seperti ini. Saya akan terus menangis di dalam kesendirian tanpa ada jalan keluarnya. Lebih baik memutuskan untuk berpisah dan mencari laki lai yang lebih mengerti apa maunya saya. Begitupun dengan dia, mungkin dia akan menemukan seseorang yang lebih mengerti akan sikapnya. Dan tidak terus mengeluh di dalam hubungannya.
Sediiih. Iyaaa. Periiih. Iyaaaa. Tapi mungkin ini yang terbaik. Mungkin jalan kita bukan untuk bersama. Mungkin kita tidak ditakdirkan untuk saling melengkapi dan mengerti.
Selama ini saya selalu berharap dia menjadi orang terkahir yang akan mendampingi hidup saya. Menjadi pemimpin dalam keluarga. Tetapi itu terlalu jauh. Karna perjalanan kita sepertinya masih panjang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: